PMDH-Pekayon: Seandainya seluruh buku, catatan dan dokumen yang ada di dunia ini musnah, termasuk seluruh data di computer dan internet menghilang dan tak bisa dikembalikan, maka hanya akan ada satu buku yang bisa ditulis kembali, sempurna huruf per huruf hingga tanda bacanya. Tak perlu berminggu-minggu untuk menuliskannya kembali, cukup hitungan jam. Itulah kitab suci Al-Quran.
Mengapa? Sanad, itulah jawabannya. Adanya pewarisan hafalan al-Quran 30 juz dari Rasulullah SAW, Shahabat, Tabiin, Tabiut tabien, para Imam Qiraaah (Qiraah Sab’ah), bersambung hingga generasi sekarang. Dengan adanya sanad maka keaslian dan keotentikan Al Quran tetap terjamin sejak era hidupnya Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat kelak.
Tahukah Anda bagaimana cara mendapat sanad qiraah al-Quran? Kita harus setor hafalan di depan syaikh pemegang sanad qiraah full 30 juz, lengkap dengan tajwid dan qiraah yang benar, baru kita bisa mendapatkan sanad serta bisa memberikannya pada orang lain. Tidak sembarangan. Begitulah al-Quran dilestarikan, bukan mengandalkan pada bahasa tulisan.
Adalah Syekh Fauzy Syaid Al-Azhari dari Kairo Mesir pemegang sanad Al-Qur’an dan memberikannya sanad tersebut kepada yang beruntung pada acara yang bertajuk “Dauroh Ilmiah Sanad Al-Qur’an” oleh Syekh yang didatangkan langsung dari Mesir pada malam ahad (25/11/2023).
Salah satu peserta yang beruntung mendapatkan Sanad Al-Qur’an secara langsung pada malam itu juga adalah Gus Zaky Yudhistira, MM.
Pimpinan Pondok Modern Daarul Hikmah tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Namun bagi yang belum beruntung pada malam tersebut, syekh yang didampingi putranya (sudah beristri loh….) meberikan kesempatan dilain hari, sebelum kepulangannya beliau kembali ke Mesir.
Untuk mengobati “kekecewaan”, Ribuan santri dan asatidz yang menghadiri dauroh tersebut, diberikan Tahsin Surat al-Fatihah dan khataman kitab Tuhfat al-Athfal bersama asy-Syaikh Fauzi.
Kitab Tuhfat al-Athfal adalah mahakarya asy-Syaikh Sulaiman bin Husein al-Jamzuri, seorang ulama dari kota Thanta, Mesir. Kitab tersebut berisi kaidah tajwid al-Quran mulai dari hukum tanwin hingga hukum mad.
Dirosah dimulai sejak Ba’da Isya dengan pembacaan Surat al-Fatihah diikuti talqin kitab Tuhfat al-Athfal sambil menjelaskan mengenai materi kitab tersebut.
Syaikh Fauzi akhirnya mengijazahkan para santri dan asatidz untuk mengamalkan serta mengajarkan kitab tersebut. Hal tersebut disebabkan sanad keilmuan asy-Syaikh Fauzi tersambung kepada sang penulis kitab.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Al-Kawakib tersebut diakhiri dengan foto bersama syekh. Nah, yang beginian santri putri puasti tidak akan mau ketinggalan. (uj)

