??????? ???? ???????? ﷺ ????? ???? ?????? ?? ????? ?????.

Oleh : Ust. Zhirly

Kini kita berada di akhir zaman, dimana zaman ini adalah zaman yang penuh dengan kekacauan. Hanya orang yang berimanlah yang mampu menghadapi kegoncangan dan fitnah di akhir zaman.

Rasulullah ﷺ  bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.”

Lalu beliau ditanya: “Apakah Ruwaibidlah itu? Bbeliau menjawab:

“Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” ( Sunan Ibnu Majah )

Dari Abdullah bin Amr bin Ash رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagaimana denganmu jika kamu berada di tengah kekacauan, janji-janji dan amanat mereka abaikan, kemudian mereka berselisih seperti ini ?”

Lalu, beliau menyilangkan antara jari-jari. Abdullah bin Amr bertanya: “Lalu, dengan apa engkau menyuruhku?”

Beliau menjawab: “Jagalah rumah, keluargamu, lidahmu, dan lakukanlah apa yang kamu tahu dan tinggalkan yang mungkar, serta berhati-hatilah dengan urusanmu sendiri, lalu tinggalkanlah perkara yang umum.” ( HR. Abu Daud dan Nasa’i )

Hudzaifah bin al Yaman رضي الله عنه bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan akan datang kejahatan?”

Beliau menjawab: “Ya, banyak penyeru yang mengajak ke pintu jahanam, maka, barangsiapa yang mengijabahnya mengikutinya, mereka akan dilemparkan ke dalamnya.”

Aku bertanya: “Sifatkanlah mereka itu kepada kita.”

Beliau berkata: “Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

Aku berkata: “Lalu, kau suruh apa ketika aku melihatnya?

Beliau menjawab: “Lazimilah berpeganglah pada jama’ah muslimin dan imam mereka.”

Aku berkata: “Jika tidak ada jama’ah dan Imam?”

Beliau menjawab: “Jauhilah semua kelompok itu meskipun akar pohon melilitmu hingga maut menjemputmu, dan engkau tetap seperti itu.”

Dari Abu Dzar رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Abu Dzar, bagaimana kamu jika berada dalam kekacauan?”

Lalu beliau ﷺ menyilangkan jari-jarinya.

Abu Dzar berkata: “Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Bersabarlah ! bersabarlah ! Manusia akan berpura-pura dengan akhlak dan perbuatan mereka.” ( HR. Hakim dan Baihqi )

Dikutip dari Berbagai Sumber

UNTUK SIAPA AMALMU?

Jika kalian berbuat ihsan, maka itu untuk kalian. Dan jika kalian berbuat buruk, itupun untuk kalian juga.” (Al Israa: 7).

Amal sholeh tidak menguntungkan Alloh. Maksiat hamba pun tidak merugikan Alloh. Disana ada manusia yang sengaja memaksiati Alloh. Ia tak mau shalat. Tidak berpuasa ramadhan. Tidak menunaikan zakat dan infak. Ia menyangka telah merugikan Robbnya. Padahal, kemaksiatan itu merugikan dirinya sendiri.

Sebaliknya..
Disana ada orang yang bangga dengan ketaatannya. Ia merasa mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Alloh. Ia memandang telah berjasa kepada Alloh. Dengan membela agamaNya. Dengan ketaatan dan amalan shalih. Ia pun menjadi angkuh karenanya. Padahal, kalau bukan karena Alloh yang memberinya kekuatan. Tentu ia akan tersesat jalan.

Sahabat,
ketaatan yang menimbulkan keangkuhan, lebih buruk dari pada maksiat yang menimbulkan taubat dan ketundukan..

Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
(Q.S. Ad Dzaariyaat : 56)

Saudaraku..
Ibadah adalah konsekuensi sebagai manusia yang memiliki Tuhan / Robb (Alloh). Bukan untuk menjadikan kita berbangga diri akan amal sholeh yang dilakukan, apalagi melakukan maksiat yang akan membuat kita semakin jauh kepada Alloh.

Semoga Bermanfa’at

Ingat jangan lupa gedor dgn dzikir,…[ssht-uj]

 

Kreativitas Meledak! Lomba Mading Meriahkan Peringatan HUT Ke-78

PMDH Online

Konon, nenek moyang kita dahulu mewarisi dengan gaya tutur bukan literatur sehingga generasi sekarang lebih senang melihat secara visual dibandingkan dengan membaca literasi.

Bisa kita lihat kemegahan candi Borobudur, menyiratkan kehebatan bangsa kita tempo dulu serta kecanggihan pembuatannya masa lalu. Namun, keterangan mengenai kapan dan siapa serta bagaimana pembuatannya masih dalam perdebatan. Karena tidak ada satupun catatan data yang akurat mengenai hal tersebut.

Maka jarang kita dapatkan anak-anak Indonesia yang gemar membaca. Disisi lain dalam keseharian mereka selalu menyimak status WA dan bahkan berjam-jam menyaksikan status medsos lainnya.

Dalam fenomena demikian, Pondok Modern Daarul Hikmah dalam hal ini bidang kurikulum bekerjasama dengan peserta PPL Integritas Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, mengadakan lomba mading antar kelas selama sepekan, 14 sampai dengan 19 Agustus 2023. dalam rangka mengisi Hari Kemerdekaan RI ke-78.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para santri Pondok Modern Daarul Hikmah, Mereka dengan penuh semangat menampilkan ide-ide brilian dalam bentuk mading yang menarik. Para peserta dari berbagai kelas dengan semangat yang membara, berupaya menuangkan ide kreatif dalam karya visual yang mencerminkan semangat peringatan HUT RI.

Salah satu karya dalam lomba Mading

Kreativitas mereka meledak di setiap sudut kelas. Para peserta lomba antusias bekerja sama. Salah satu peserta lomba dari kelas 4B putri, Hanif Aulia Putri, mengungkapkan, “Lomba Mading ini sangat menyenangkan karena kami bisa berkreasi dan berkolaborasi dengan teman-teman. Kami ingin menunjukkan rasa cinta kami terhadap Indonesia melalui karya kami.”

Kepala Madrasah Tsanawiyah, Gus Deli memberikan hadiah kepala pemenang lomba Mading tingkat MTs

Pimpinan Pondok merasa bangga dengan antusiasme peserta didik. “Lomba Mading ini adalah wadah yang bagus untuk melatih kreativitas, kerja sama, dan ekspresi diri para peserta didik. Melalui karya-karya ini, mereka tidak hanya menyampaikan pesan-pesan penting, tetapi juga meningkatkan rasa cinta mereka terhadap tanah air,” ucap Gus Zaki di sela-sela pemberian hadiah juara lomba mading.

 

Kepala Sekolah SMA memberikan hadiah kepada pemenang lomba Mading tingkat SMA.

Jenjang SMA Kelas 6B berhasil meraih juara 1 dan kelas 4B Putri meraih juara 2. Sedangkan Tingkat MTs diraih oleh kelas 3B Putra sebagai juara 2 dan kelas 3B Putri Juara 1. Selamat kepada para pemenang,  semoga kreativitas dan semangatnya akan menginspirasi peserta lain sebagai generasi yang kreatif, cinta tanah air, dan berdedikasi. (uj)

 

Penyuluhan Healthy Mind Healthy Life & Pengembangan Potensi Santri

PMDH Online

Dalam keseharian, setiap individu tidak pernah dilepaskan dari masalah. Mulai dari masalah yang berkaitan dengan keluarga (anak, orang tua), pekerjaan, maupun hubungan interpersonal. Misalnya saja banyaknya tagihan yang harus dibayar di akhir bulan, pekerjaan kantor yang selalu dihadapkan pada deadline, anak yang selalu rewel, dan sebagainya. Masalah-masalah yang muncul tersebut dikenal dengan istilah stres. Namun, tidak semua stres berkonotasi dengan hal yang negatif. Kelahiran anak, promosi jabatan, kelulusan, merupakan contoh stres yang positif (eustress).

Asatidz sedang mengikuti Penyuluhan Pengembangan Potensi Santri PMDH (21/08/23)

Pada senin (21/8/23) Pondok Modern Daarul Hikmah bekerjasama dengan mahasiswa yang sedang melakukan PPL mengadakan seminar Penyuluhan Stress dengan tema “Healthy Mind, Healthy Life”, yang disampaikan oleh Husna Lathifunnisa, dosen Universitas Sultan Hasaudin. Dalam seminar tersebut, yang menjadi fokus pembahasan adalah stres bukan dalam konteks yang hanya negatif saja,  “Praktik manajemen stres yang teratur tidak hanya mencegah efek negatif dari stres, tetapi juga dapat membawa hasil positif seperti peningkatan produktivitas, kesehatan yang lebih baik, dan lebih banyak kebahagiaan secara umum.” Papar Husna saat menyampaikan Penyuluhannya.

Foto bersama Pemateri dan Peserta Penyuluhan PPL Integratif (21/8/23)

Tidak kalah menarik dari pembicara pertama, tema yang diusung pemateri kedua adalah “Pengembangan Potensi Santri dengan Pengasuhan yang Tepat dan Cermat” dengan pembicara Ahmad Fadhil, Lc. M.Hum.

Menurutnya, Tidak ada pengasuh kalau tidak ada yang diasuh. Tidak ada ustadz dan kiai kalau tidak ada santri. “Saya pernah melihat video di status WhatsApp teman. Pesan yang disampaikannya bagus: Murid yang pintar itu kalau disuruh oleh gurunya untuk makan ikan, tapi gurunya justru memberikannya cacing, ia tidak marah dan tidak bilang, “Apa ga bahaya ta; guru gue nih rada-rada; agak lain.” Murid itu juga tidak lantas menjadi orang bodoh yang menelan langsung cacing itu. Ia akan mencari kail, senar, dan ranting, lalu pergi memancing.” Paparnya diselingi gelak tawa ustadz ustzah yang antusias mengikuti penyuluhan. [uj]

 

Khutbah Jum’at edisi 25 Agustus 2023 Mengisi Kemerdekaan

Oleh : Ust. Jamal Fauzi

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, pada hari ini, kita masih bisa terus merasakan nikmat yang dianugerahkan Allah swt kepada kita semua. Di antaranya adalah nikmat iman, kesehatan, dan kemerdekaan sehingga kita bisa dengan tenang melangkahkan kaki menuju majelis ini untuk menjalankan tugas utama kita hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah. Hal ini akan sulit untuk dilakukan jika kita berada dalam kondisi peperangan alias tidak merdeka serta masih berada dalam kungkungan penjajah.

Sebagaimana diketahui, penjajahan di dunia ini bisa dipilah menjadi dua. Pertama, penjajahan fisik. Kedua, penjajahan non-fisik.

Penjajahan fisik dilakukan dengan pendudukan (ihtilâl); dengan menduduki wilayah, menguasai sumber daya alam, menundukkan sumber daya manusianya, kemudian mengontrol kekuasaan militer, politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Inilah yang dilakukan oleh negara-negara penjajah Barat pengusung utama ideologi Kapitalisme-sekularisme pada masa lalu, khususnya di Dunia Islam, termasuk negeri ini.

Adapun penjajahan non-fisik dilakukan melalui pemikiran, pendidikan, budaya dan soft power yang lainnya. Biasanya dilakukan dengan menggunakan strategi dan agen. Mereka ditanam di semua sektor; mulai dari sektor politik, pemerintahan, militer, ekonomi, budaya, agama, hukum dan sebagainya. Inilah yang dilakukan oleh negara-negara penjajah Barat pengusung utama ideologi Kapitalisme-sekularisme pada masa sekarang, khususnya di Dunia Islam, termasuk negeri ini.

Karena itu secara de jure negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, memang sudah dinyatakan merdeka. Ini karena kaum penjajah telah lama meninggalkan negeri kaum Muslim. Namun, secara de facto pemikiran, mindset dan cara pandang penjajah itu tetap dipertahankan, terutama oleh para penguasa dan elit-elit politiknya. Bahkan mereka mengundang penjajah itu untuk mengangkangi dan mengeruk kekayaan negeri mereka atas nama “investasi” dan sebagainya.

Terkait Indonesia, era penjajahan fisik yang dialami bangsa ini memang sudah lama berakhir. Kaum penjajah yang pernah menjajah negeri ini pun—seperti Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang—sudah lama terusir. Negeri ini bahkan telah merayakan Hari Kemerdekaan sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke-78. Ceremonial telah dilakukan dengan berbagai kegiatan menggembirakan mengisi kemerdekaan tersebut. Ada yang upacara bedera, panjat pinang, balap karung dan lain sebagainya.

Hadirin Rahimakumullah,…
Kegiatan tersebut memang symbol kegembiraan dari terlepasnya belenggu penjajahan. Terbebas dari pengaruh asing yang menguasai negeri. Namun, benarkah Indonesia benar-benar terlepas dari penjajahan?

Mengutip dari kitab Nashoihul Ibad  maqolah ke 21 syekh Nawawi al-Bantani mengatakan bahwa

لَا غُربَةَ للفَاضِلِ ولَا طَنَ للجَهِلِ

Artinya : “tidak ada keterasingan bagi orang-orang yang utama (berilmu) dan tidak ada tanah air (rumah) bagi orang-orang yang bodoh.”

Seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnya ia akan dimulyakan dan dihormati diantara manusia dimana saja berada. Oleh karena itu dimana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri meskipun dia sebagai pendatang yang hanya singgah sesaat. Sebaliknya, orang yang bodoh adalah kebalikannya, meskipun di negeri sendiri, mereka akan merasa asing.

Fenomena keterasingan orang-orang pribumi dibanding pendatang sangatlah kentara di belahan bumi Indonesia bagian manapun, termasuk di wilayah kita ini. Meskipun Indonesia sudah merdeka78 tahun silam, masih banyak yang harus kita perjuangkan untuk mengisi kemerdekaan, salah satunya pesan dari syekh Nawawi diatas, lenyapkan kebodohan agar kita tidak menjadi orang asing di negeri sendiri.

Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang. Mereka, seringkali disiksa dan dianiaya, negeri ini belum mampu memulangkan mereka dan memberi pekerjaan layak dan mensejahterakannya. Luas negara ini jutaan hektar Namun lebih dari setengah dikuasai asing, hingga rakyat tak lagi punya lahan luas, berdesak-desakan di tanah yang sempit, tanah negara belum mampu direbut Kembali,… Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa, namun dikelola oleh orang lain, Rakyat hampir tak menikmatinya, kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara sendiri…

Hadirin Rahimakumullah

Pada saat yang sama, ketidakadilan makin nyata. Hukum makin tajam ke bawah dan makin tumpul ke atas. Banyak koruptor dihukum ringan. Bahkan divonis bebas. Sebaliknya, tak sedikit rakyat kecil—misal yang mencuri tak seberapa dan sering karena dorongan rasa lapar—dihukum berat.

Belum lagi kita bicara moral. Sebagaimana diketahui, salah satu cita-cita utama kemerdekaan—terutama yang dirumuskan dalam sistem pendidikan nasional—adalah bagaimana melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa. Faktanya, hari ini moralitas generasi muda makin merosot. Perilaku seks bebas makin liar. Bahkan banyak remaja terjerumus ke dalam perilaku LGBT. Banyak dari mereka yang terjerat narkoba. Kasus bullying (perundungan), khususnya di kalangan pelajar dan remaja, juga makin sering terjadi. Bahkan kasus kejahatan dengan pelaku pelajar dan mahasiswa sudah sering kita saksikan. Ragam kriminalitas pun makin hari makin beragam dan makin mengerikan

Penjajahan, baik fisik maupun non-fisik, sesungguhnya merupakan manifestasi dari isti’bâd (perbudakan), yaitu menjadikan manusia sebagai budak bagi manusia lainnya. Karena itu Islam telah mengharamkan penjajahan. Allah SWT berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لاَ إِلَٰهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي

Sungguh Aku adalah Allah. Tidak ada tuhan yang lain, selain Aku. Karena itu sembahlah Aku (QS Thaha [20]: 14).

Inilah kalimat tauhid. Kalimat tauhid ini pada dasarnya telah terpatri di dalam hati setiap Muslim. Jika tauhid mereka murni dan jernih, kemudian pemahaman yang terbentuk dari sana juga jernih, maka tauhid itu akan membangkitkan semangat penghambaan hanya kepada Allah. Spirit tauhid ini pun sekaligus akan membangkitkan perlawanan terhadap segala bentuk perbudakan/penghambaan atas sesama manusia, termasuk penjajahan atas segala bangsa. Inilah yang tampak dari kalimat Rub’i bin ‘Amir kepada panglima Persia, Rustum:

اللهُ اِبْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَ مِنْ ضَيْقِ الدُّنْيَا إِلىَ سِعَتِهَا، وَ مِنْ جُوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan (memerdekakan) siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari sempitnya dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama yang ada menuju ke keadilan Islam.” (Ibn Jarir at-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, 3/520; Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 7/39).

Inilah spirit Islam. Spirit ini muaranya ada pada kalimat tauhid, “Lâ Ilâha illalLâh, Muhammad RasûlulLâh” (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Atas dasar itu, menjadi kewajiban kaum Muslim secara bersama, untuk bertafakur menyertai rasa syukur, dengan melihat realitas yang ada di negeri kita di segala bidang, sudahkah sistem yang mengatur kehidupan umat di segala bidang ditegakkan di atas prinsip tauhid? Sudahkah hakikat dan prinsip-prinsip kemerdekaan hakiki menurut ajaran Islam, seperti yang dikemukakan oleh Rub’i bin Amir di atas?

Hadirin Sidang Jumat yang Berbahagia

misi Islam adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Maka dari itu, tidak ada negeri yang dikuasai Islam berubah kusam, sengsara, mundur dan terbelakang.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kutipan ayat tersebut menerangkan bahwa betapa Allah akan mengangkat derajat mereka yang menuntut ilmu beberapa kali lebih tinggi daripada yang tidak menuntut ilmu. Isyarat ini menandakan bahwa dengan ilmu lah manusia bisa menjadi lebih mulia, tidak dengan hartanya apalagi nasabnya.

Semoga, kita mampu mengisi kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu teguh mempertahankan tauhid dan keimanan serta terus menimba ilmu yang bermanfaat  sehingga kita mampu menghapus penjajahan ideologi dari negeri asing.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ  اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ  الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ  عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya…”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

*dikutip dari berbagai sumber
*Kepala Sekolah SMA Nusantara Unggul

Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka

Sukadiri (PMDH Online) –

Langkah nyata mulai dipersiapkan Pondok Modern Daarul Hikmah untuk mempersiapkan diri dalam menyambut pemberlakuan Kurikulum Merdeka. Sebagai Langkah awal adalah pengadaan workshop Implementasi Kurikulum Merdeka untuk seluruh guru PMDH pada sabtu (19/08/2023), di Ruang Auditorium Lantai II.

Narasumber utama Idris, S.Ag, M.Pd memberikan materi tentang Implementasi Kurikulum Merdeka, Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan, Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen. Saat mengenalkan Kurikulum Merdeka, narsum menyebutkan beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka. “Kurikulum Merdeka memiliki beberapa keunggulan; lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka, serta lebih relevan dan interaktif.”

Foto Bersama Peserta dan Narasumber IKM [19/08/2023]
Lebih lanjut, narsum yang juga Pengawas MTs ini memahamkan kepada para peserta bagaimana caranya melakukan pembelajaran berdiferensiasi. “Tomlinson dalam bukunya How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan tiga aspek; kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid, dan profil belajar murid,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala MTs, Gus Deli berharap para guru mampu memahami konsep Kurikulum Merdeka. “Kami berharap dengan adanya workshop ini, para guru mampu memahami konsep Kurikulum Merdeka dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RL) serta mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada Tahun Pelajaran 2023/2024,” tandas Kamad.

Di akhir sesi, Ummu Salamah selaku panitia mengenalkan aplikasi Merdeka Mengajar kepada para peserta. “Untuk mempelajari Kurikulum Merdeka secara mandiri, Bapak Ibu bisa mendownload aplikasi Merdeka Mengajar di Playstore atau mengunjungi website www.guru.kemdikbud.go.id dan log in menggunakan akun madrasah.kemenag.go.id yang telah dibuatkan oleh KSKK,” tuturnya. (uj)

Pondok Modern Daarul Hikmah Gelar Upacara HUT RI KE-78

Pekayon – PMDH Online

Pondok Modern Daarul Hikmah, Sukadiri, Kamis (17/8), kembali melangsungkan upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia. Suatu kebahagiaan yang luar biasa ikut berpartisipasi menyemarakkan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih

Pimpinan Pondok Gus Zaky, Direktur KMI Al Ustadz Rizal Pranoto, dan Pengasuh Pondok KH. Taufiq Munir juga terlihat hadir mengikuti prosesi upacara pengibaran bendera dari awal hingga akhir. Turut hadir pula dalam acara tersebut seluruh Wali Santri petugas upacara bendera.

Yang bertugas dalam upacara HUT RI ke-78 kali ini adalah Santri-santri terbaik kelas 4 KMI dipimpin oleh Syahrul Miftahudin asal Sumatra Barat. Apresiasi setinggi-tingginya disampaikan oleh pimpinan pondok untuk seluruh petugas hari ini, pasalnya mereka telah berlatih semenjak 1 bulan yang lalu dan hari ini mereka buktikan dengan tampil maksimal dihadapan seluruh asatiz, wali santri dan santri Pondok Modern Daarul Hikmah. Semoga menjadi pengalaman berharga dan bisa menjadi generasi masa depan bangsa. MERDEKA…! [ils]

Manfaat Baca Shalawat di Malam Jumat

Tangerang, PMDH Online
Membaca shalawat di malam Jumat menjadi tindakan ‘dobel istimewa’. Pasalnya, shalawat merupakan amalan yang spesial dan malam Jumat juga adalah waktu yang istimewa. Tak ayal, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak bershalawat di malam Jumat.

Hal demikian ini dianjurkan secara langsung oleh Rasulullah saw dalam banyak haditsnya. Ustadz Ahmad Hanan dalam artikelnya di NU Onilne yang berjudul Ini Faedah Memperbanyak Bacaan Shalawat di Malam Jumat menulis setidaknya ada tiga hadits.

Dari tiga hadits tersebut, Rasulullah saw menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di malam Jumat dengan berbagai manfaatnya yang diperoleh sebagaimana dikutip dari tulisan di atas pada Kamis (17/8/2023).

1. Dibalas 10 kali lipat

Orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad saw akan dibalas 10 kali lipat dari Allah swt. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa Rasulullah memerintahkan umat Islam agar memperbanyak bacaan shalawat di hari Jumat dan malam Jumat dan akan dibalas 10 kali lipatnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ في يومِ الجمعةِ وليلةِ الجمعةِ ، فمَن صلّى عليّ صلاةً صلّى الله عليه عشرًا. (رواه البيهقي)

Artinya: “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian untuk bershalawat kepadaku di hari Jumat dan Malam Jumat. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku (Nabi Muhammad) sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali,” (HR Imam Baihaqi).

Imam Baihaqi juga meriwayatkan sebuah hadits yang menegaskan bahwa orang yang banyak bershalawat akan mendapatkan kedudukan yang dekat dengan Rasulullah.

وقال صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ يومَ الجمعةِ ؛ فإنَّ صلاةَ أمّتي تُعرضُ عليّ في كلّ يومِ جمعةٍ ، فمن كان أكثرهم عليّ صلاةً كان أقربهم منّي منزلةً. (رواه البيهقي)

Artinya: “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian untuk bershalawat kepadaku di hari Jumat. Karena sesungguhnya shalawatnya umatku itu disetorkan kepadaku setiap hari Jumat. Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia akan mendapatkan kedudukan yang paling dekat denganku,” (HR Imam Baihaqi).

3. Peroleh Syafaat

Hadits lain yang diriwayatkan Imam Baihaqi menyebutkan bahwa orang yang banyak membaca shalawat di hari Jumat dan malam Jumat, Rasulullah akan menjadi saksi dan memberikan syafaat baginya di hari kiamat nanti.

وقال صلى الله عليه وسلم : أكثروا عليَّ من الصَّلاةِ يومَ الجمعةِ وليلةِ الجمعةِ ، فمَن فعل ذلك كنتُ له شهيدًا وشفيعًا يومَ القيامةِ. (رواه البيهقي)

Artinya: “Rasulullah bersabda: Perbanyaklah kalian untuk bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barang siapa yang melakukan hal itu, aku akan menjadi saksi baginya dan memberikan syafaat padanya di hari kiamat,” (HR Imam Baihaqi).

Mengenal K.H. Ahmad Mustofa Bisri: Ulama dan Budayawan Sekaligus

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Dimana-mana sesama saudara

Saling cakar berebut benar

Sambil terus berbuat kesalahan

Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan

Masing-masing mereka yang berkepentingan

Aku pun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

BincangSyariah.Com – Potongan puisi diatas adalah untaian ungkapan kerinduan terhadap sosok teladan dan pujaan, sebagai bentuk keresahan dari keadaan ummat di zaman yang amat edan. Zaman dimana sesama ummat hanya berpangku kepada kepentingan golongan, serta qur’an dan sabda Rasulullah SAW hanyalah sebagai alat pembenaran.

Puisi ini merupakan karya dari seorang ulama sekaligus pujangga ulung K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal dengan sebutan Gus Mus. Gus Mus merupakan ulama nusantara dan salah satu kiai berpengaruh di kalangan jamaah Nahdatul Ulama. Ia juga diantara ulama yang masih berulang kali menyuarakan pentingnya mempertahankan moderasi beragama, sehingga tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai ulama moderat masa kini.

Putra Pakar Tafsir

Gus Mus lahir pada tanggal 10 Agustus 1944, di daerah Rembang, Jawa Tengah. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang patriotik, intelek, dan agamis. Kakeknya H. Zaenal Mustofa yang dikenal sebagai saudagar tetapi juga amat menghormati ulama merupakan kakek yang amat peduli dengan pendidikan anak-anaknya terutama dalam ilmu agama. Hal ini terbukti dengan berdirinya Taman Pelajar Islam (Roudhotut Tholibin) pada tahun 1955 yang merupakan hasil dari buah perpaduan yang terpatri dalam keluarga H. Zaenal Mustofa dan keluarga ulama.

Sikap agamis dan patriotik yang dimiliki Gus Mus tidak hanya turun dari darah kakeknya, melainkan juga dari darah ayahnya KH. Bisri Musthofa yang merupakan orator ulung. Dalam ungkapan KH. Saifuddin Zuhri, KH. Bisri Mushtofa adalah sosok orator yang mampu membuat pembahasan  yang sulit menjadi mudah didengar dan dipahami. Beliau memiliki sejumlah karya tulis, diantaranya adalah tafsir Al-Quran 30 juz dengan menggunakan hurub arab pegon bernama al-Ibriz.

Pendidikan dan Pengalaman Berorganisasi

Gus Mus sendiri memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) di Rembang, setamat dari SR beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin dibawah asuhan KH. Marzuki dan KH. Mahrus Ali selama dua tahun, dan melanjutkan pembelajarannya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak dibawah asuhan KH. Ali Ma’shum dan KH. Abdul Qodir selama empat tahun, lalu melanjutkan masa pendidikannya di Universitas Al-Azhar Cairo dalam program studi Islam dan bahasa Arab.

Gus Mus merupakan pribadi yang disiplin daln terlatih dalam berorganisasi, semasa pendidikannya di Al-Azhar Cairo beliau pernah menjabat sebagai pengurus Himpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia (HIPPI) bersama KH. Abdullah Syukri Zarkasy (Pengasuh Pondok Modern Daarussalam Gontor, Ponorogo) di divisi olahraga. Selain itu Gus Mus juga aktif  mengelolah majalah organisai HIPPI bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sepulang dari masa pendidikannya di Mesir Gus Mus ikut berkecimpung dalam pengurusan NU baik tingkat cabang pada tahun 1970 di PCNU Rembang, pernah menjabat sebagai Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah, hingga menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU periode 1994-1999. Pada tahun 2004-2009 Gus Mus memutuskan vakum dari kepengurusan struktural PBNU.

Pada tahun 2015, atas dasar hasil Muktamar NU yang ke-32 di Makassar, Gus Mus ditunjuk sebagai Wakil Rois Aam PBNU periode 2010-2015 mendampingi KH. M.A sahal Mahfudz sebagai Ketua. Namun sebelum kepengurusan berakhir, tepatnya pada tanggal 24 Januari 2014 KH. M.A Sahal Mahfudz lebih dulu menghadap sang Kholiq. Dengan berdasarkan AD- ART NU, kepemimpinan Raiis ‘Aam PBNU selanjutnya jatuh kepada Gus Mus selaku wakil dari Raiis ‘Aam saat itu.

Pada Muktamar ke-33 di Jombang, Gus Mus kembali ditunjuk sebagai Raiis ‘Aam PBNU yang dipilih oleh tim Ahl al-Hall wa al-‘Aqd (Ahwa) namun denga tegas Gus Mus menolak tawaran tersebut karena dianggap melanggar kode etik pemilihan dan tidak mengikutsertakan langsung para muktamirin selaku pemegang  hak suara dalam memilih.

Sikap penolakan Gus Mus juga didukung oleh KH. Hasyim Muzadi yang memberikan tanggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Mus menunjukan bahwa dirinya memiliki integritas yang kuat, dan lebih mementingkan kemaslahatan bersama dibanding kepentingannya sendiri. Sikap ini merupakan sikap yang mempresentasikan sikap tawassuth yang lebih memilih jalan tengah sebagai penyatu.

Teladan Literasi dan Kritik Sosial

Kiprah Gus Mus tidak hanya dalam berorganisasi melainkan juga dalam dunia literasi, hal ini tercermin dalam pembentukan gusmus.net dengan konsep “Mata Air” sebagai media informasi yang memiliki integritas yang kuat dalam menginfokan hal-hal kebenaran.

Kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Raudhotut Tholibin ini juga kerap kali mengggubah puisi sebagai bentuk keresahan dan keprihatinan beliau pada kondisi ummat saat ini. Salah satu puisinya yang berjudul “O Muhammadku” adalah bentuk keresahan beliau yang rindu akan sosok pemimpin  yang dapat diteladani, serta penggambaran kondisi ummat yang saat ini hanya saling kafir-mengkafiri.

Dalam satu kesempatan ketika diundang di acara Mata Najwa, beliau memaparkan macam-macam Kiai dan Ulama. Menurutnya, ulama itu terbagi sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Ada kalangan ulama struktural partai, ada kalangan ulama yang berbasis di pemerintahan, ada ulama yang dibentuk untuk mewujudkan kepentingan golongannya. Namun sebenar-benarnya ulama adalah yang mewarikan sikap luhur dan ajaran Rasulullah SAW.

Itulah sosok Gus Mus, seorang Ulama, Budayawan, Seniman sekaligus yang amat memegang teguh prinsip integritas dan moderasi beragama. Kepeduliannya terhadap ummat tak perlu diragukan jika kita melihat kiprahnya dalam mengabdi kepada ummat. Selayaknya kita sebagai para generasi penerus bangsa mampu meneladani sikap yang beliau contohkan, agar kelak bangsa ini tidak hanya memiliki Gus Mus yang sekarang, tapi juga akan melahirkan generasi generasi ulama ulama moderat yang lebih baik dan bisa berkiprah untuk kepentingan ummat dan bangsa. (uj)

Artikel ini pernah terbit di :

https://bincangsyariah.com/author/ahmad-syaban-firdaus/

Selamat & Sukses Berhasil UM-PTKIN 2023

Alhamdulillah, Sebanyak 7 Santri Pondok Modern Daarul Hikmah berhasil lolos dalam Seleksi Ujian Masuk PerguruanTinggi Keagamaan Islam Negeri tahun 2023.
Pimpinan Pondok, Gus Zaky Yudhistira, MM melalui pesan singkat WA langsung memberikan Selamat kepada ananda :

  1.  Faris Haidar
  2. Muhammad Sibghoh Kuncoro
  3. Abih Al-Fikri
  4. Abu Yazin Al-Bustomi
  5. Fadzil Ainun Najib
  6. Muhammad Faiz Aulia
  7. Qaisara Rahma Sagira
  8. Muhammad Refan Syauqi
  9. Alvin Nurizky Ahmad