Membumikan Al Quran

Ungkapan “Membumikan Al Quran” mengisyaratkan kepada kita semua mengenai masih jauhnya nilai-nilai Al Quran dari kenyataan kehidupan yang kita jalani. Padahal, idealnya Al Quran itu seharusnya dekat dengan kita. Dekat dengan kehidupan kita di sini dan saat ini. Jadi membumikan Al Quran mengandung makna adanya upaya untuk mewujudkan yang “jauh” menjadi “lebih dekat”. Yakni mendekatkan dua kondisi berbeda, kondisi ideal menurut Al Quran di satu sisi dan kondisi nyata kehidupan umat di sisi lainnya.

Sekarang katakanlah yang baru bisa diamalkan hanyalah 5% saja, padahal seharusnya 100% isi kandungan Al Quran dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat mewujudkan kondisi ideal ini tentunya diperlukan upaya konkret yang mendasar berupa aktivitas memahami dan menerapkan Al Quran itu ke dalam realitas kehidupan yang kita jalani.

Pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional merupakan salah satu upaya dari pemerintah dalam rangka turut serta membumikan Al Quran. Event yang menyedot anggaran negara sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah ini diharapkan dapat menjadikan semakin banyak orang yang mencintai dan memahami Al Quran. Memahami Al Quran merupakan langkah awal, sedangkan buahnya adalah penerapan atau pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Keikutsertaan para santri Pondok Modern Daarul Hikmah dalam kegiatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) adalah bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar mencari gelar juara. Namun lebih jauh lagi yakni melalui kegiatan ini diharapkan muncul para kader ummat berakhlak Qur’ani seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sebagai mana Siti Aisyah radhiyallahu anha menyatakan saat ditanya bagaimana akhlak Rasul, “Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Namun segera perlu diingatkan di sini bahwa Al Qur’an dan Al Hadits (As Sunnah) sebenarnya satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Maka ketika ada pernyataan “membumikan Al Qur’an” dengan sendirinya sudah include di dalamnya penerapan As Sunnah. Firman Allah Swt: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (QS. An Nisaa: 80).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun pernah bersabda: “Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara,
yang kalian tak akan tersesat bila berpegang pada keduanya : Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Muslim).

Untuk dapat hidup Qur’ani seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tentu saja ummat Islam harus “akrab” dengan Al Qur’an. Hal ini dimulai dengan tidak membiarkan koleksi kitab Al Qur’an menjadi sekedar penghias rak, almari, dashboard mobil ataupun meja kantor. Al Qur’an mesti dibaca sambil terus dipahami maknanya.

Setidaknya ada dua macam misi yang diemban oleh Pondok Modern Daarul Hikmah dengan mengikutsertakan para santrinya dan official dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an ini. Pertama, motivasi syi’ar Islam, motivasi menyiarkan agaram agar tidak ada henti-hentinya untuk menyelenggarakan dakwah kepada masyarakat luas pada umumnya. Kedua, tujuan internal. Dengan mengikuti musabaqah yang bersifat rutin dan mempertandingkan jago-jago dari berbagai wilayah, diharapkan akan mendorong para santri untuk semakin semangat dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas pembelajaran Al Qur’an.

Tidak hanya giat membaca dan memahami isi kandungan Al Qur’an, akan tetapi semakin rajin pula mempelajari ilmu-ilmu lain yang mendukungnya seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, bahasa Arab dan lain sebagainya. [azy]

Add your comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *